Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan apresiasi kepada 35 provinsi yang dinilai memiliki komitmen serius terhadap pengembangan dan pelestarian warisan kebudayaan daerah. 

Apresiasi ini diselenggarakan dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya TakBenda Indonesia (WBTbI) 2025 bertajuk “Membingkai Warisan, Menghidupkan Masa Depan,” di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Senin (15/12).

Dalam ajang tahunan tersebut, Provinsi Maluku berhasil menetapkan empat warisan budaya takbenda baru setelah melalui proses pengkajian tim ahli yang ketat.

Empat warisan tersebut adalah Batuku Adat dari Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Papalele dari Kota Ambon, Tarian Tnbar Ilaa dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Maren dari Kota Tual.

Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM Maluku, Samuel Huwae, yang mewakili Gubernur Hendrik Lewerissa menerima langsung sertifikat penetapan tersebut. Ia menyatakan kebanggaannya dapat tampil di panggung nasional bersama 34 provinsi lainnya.

Menteri Kebudayaan, Dr. Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pemeliharaan ekosistem budaya yang hidup, dinamis, dan berkelanjutan.

Menurut Menteri, malam apresiasi ini bukan hanya sebatas konteks penetapan, tetapi harus dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai soft power bangsa. Ia menekankan bahwa setiap warisan yang ditetapkan harus diregistrasi dan dihidupkan ekosistemnya demi menciptakan nilai tambah.

“Saya minta warisan budaya takbenda ini harus menjadi bagian dari hilirisasi potensi budaya bangsa,” ujar Fadli Zon di hadapan para undangan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Dr. Lotje Singerin, yang hadir bersama Kepala Bidang Kebudayaan, Rina Lappy, menyebut tema Anugerah WBTbI kali ini mencerminkan kristalisasi upaya pelindungan kebudayaan secara menyeluruh. 

Hal ini tidak hanya mencakup warisan budaya semata, tetapi juga keterhubungannya dengan lingkungan alam, ruang hidup, serta komunitas pendukungnya.

Singerin berjanji akan lebih serius dalam mengembangkan kebudayaan daerah Maluku ke depannya. Ia juga mengaku bangga karena pada malam bersejarah itu, Tarian Tnbar Ilaa dari Maluku turut dipentaskan dan berhasil memukau para undangan yang hadir.

Penetapan warisan budaya takbenda ini merupakan hasil saringan ketat dari total 804 usulan yang diajukan dari seluruh Indonesia. Proses penilaian melibatkan para pakar melalui tiga kali sidang dan disertai verifikasi faktual lapangan.

Acara malam apresiasi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi Kemendikbud, antara lain Wakil Menteri Giring Ganesha dan Sekjen Bambang Wibawarta. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudin, juga turut hadir. 

Selain itu, tampak hadir beberapa kepala daerah seperti Gubernur Jambi, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Lampung, Gubernur Kalimantan Utara, Wakil Gubernur Jawa Barat, serta sejumlah wali kota dan bupati se-Indonesia.(TIA)

Sumber : Potretmaluku.id